Pemuda Realita dan Maya

Pemuda selalu diidentikkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di negeri ini. Sebagaimana selalu menjadi gema yang wajib disampaikan di setiap acara-acara pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Peringatan sumpah pemuda pun dijadikan momentum membakar kembali jiwa pemuda. Benarkah demikian?

Jargon “Hidup Mahasiswa!” dan lagu Totalitas Perjuangan telah menjadi hal yang wajib dijadikan “haluan” (dalam tanda kutip) bagi setiap aktivis kampus. Menjadi pengingat bahwa dalam catatan sejarah Indonesia selalu ada redaksi pemuda dan mahasiswa yang menjadi subjek perubahan.

When you reacting to change, actually you are too late

The World Is Flat

Subjudul diatas bukanlah tentang teori bumi datar, tetapi merupakan sebuah judul buku karya Thomas Friedman yang menganalisis globalisasi, terutama yang terjadi di awal abad 21. Judul lengkapnya The World is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century. Penulis buku ini memberikan kritik-kritik kepada masyarakat negara berkembang yang menurutnya tidak mau menerima perubahan. Dituliskan bahwa ada 10 flatteners yang menjadi faktor globalisasi. Enam diantaranya adalah bidang teknologi internet.

Oke mungkin buku diatas adalah buku lama, terbitan pertama tahun 2005 kemudian direvisi beberapa kali hingga tahun 2007. Tapi mari kita lihat paradoks yang terjadi selepas reformasi.

Kita berjargon “kita harus lebih modern, lebih maju, dan pola pikir kita harus diubah” tapi kita hanya diam ditempat, nyaman dengan pola pikir yang sama. Saya ambil contoh perbandingan Industri IT di Indonesia dengan India.

Dua dekade lalu India hanya kita kenal filmnya saja. Untuk soal ekonomi apalagi teknologi mereka masih dibawah Indonesia. Bahkan kita bisa berbangga diri bahwa kita diatas mereka. Namun kita lihat perbandingannya sekarang, apa yang dikenal dari India. Disana ada Bangalore, yang menjadi pusat IT di India bahkan Asia. Konten MOOC (Massive Open Online Cource) banyak diisi orang India. Orang-orang India banyak yang menduduki posisi penting di perusahaan IT dunia.

Lalu? Kita akan bereaksi akan ini? Kita terlambat. We are too late.

Berpikir Melingkar

India tidak terang-terangan beradu dengan negara raksasa seperti Amerika, Inggris, Tiongkok, atau Jepang. Mereka memikirkan sisi lain bagaimana mereka mendapatkan ilmu yang dimiliki negara besar.

Saat itu, ketika masyarakat Indonesia berbondong-bondong ingin mendapatkan gaji yang besar, SDM menjadi mahal. India mengundang perusahaan raksasa IT ke negaranya, menyediakan SDM murah, dengan syarat SDM mereka dilatih hingga bisa. Sekarang? SDM mereka sudah menjadi tenaga ahli di negara besar.

Oiya, kita tidak berbicara soal investasi asing disini. Itu bahasan lain. Tapi yang kita pelajari bagaimana India mampu memikirkan hal yang saat itu tidak terpikirkan oleh negara manapun.

Kembali ke Pemuda

Baik, sudah cukup pembukaannya. Tahun 1900 – 1960an peran pemuda menjadi sangat berpengaruh terhadap bangsa ini. Pemuda menjadi aktor utama dalam pergerakan perubahan sosial kemasyarakatan. Mampu membentuk badan-badan organisasi, hingga pergerakan massa. Menjadikan pandangan masyarakat terhadap pemuda menjadi sangat tinggi. Bahkan sumpah pemuda digelorakan sebagai pernyataan sikap yang tegas kepada Kolonial Belanda.

Perubahan terjadi di kampus yang mencetak para pemuda. Inisiatif-inisiatif berpikir melingkar menjadi sebatas program kerja yang harus ditunaikan dari tahun ke tahun. Pendidikan karakter menjadi sesempit kakak tingkat yang keren di depan mahasiswa baru. Lalu globalisasi yang mana yang bisa kita hadapi?

Kedisiplinan dan kreativitas berpikir

Jebakan dengan dogma bahwa kreativitas berpikir terbatasi oleh kedisiplinan menjadikan pemuda itu sendiri tidak berpikir kreatif. Tidak ada hubungan antara kreativitas dan disiplin. Justru kreativitas adalah sesuatu yang bisa muncul kapan saja, dalam kondisi apapun. Terkadang bahkan kita tidak harapkan. Bisa saja ketika mencari ide, malah ide itu tidak pernah muncul. Sebaliknya, ketika kita sedang diam, tiba-tiba ide itu muncul.

Said Nursi di Turki, Soekarno, Buya Hamka di Indonesia, dan banyak tokoh-tokoh lain yang melahirkan karya di dalam penjara. Tempat yang dalam tanda kutip sangat disiplin. 

Mungkin beberapa beranggapan bahwa Manajemen SDM di era Revolusi Industri 4.0 tidak begitu diperlukan. Karena beberapa akan tergantikan dengan teknologi. Justru tidak. Zaman ini membutuhkan SDM yang kompeten, mampu berinovasi, dan mampu bersaing. Soft skill yang dibutuhkan salah satunya kedisiplinan dan kreativitas.

Mereka yang tidak disiplin bersiap-siap untuk digantikan dengan teknologi.

Mana yang diubah, mana yang dipertahankan?

Mengetahui mana yang perlu diubah, mana yang dipertahankan. Mengejar ilmu dan bersaing secara global itu perlu, namun tetap dengan menunjukkan jati diri kita Indonesia. Jangan sampai terbalik-balik, yang perlu diubah dipertahankan, yang perlu dipertahankan lantas diubah.

Saya teringat cerita seorang dosen. Ketika beliau mengajar di kelas, salah seorang mahasiswa (entah apa yang dia pikirkan) nyeletuk “anjir”. Sontak dosen menegurnya. Tak disangka, sebuah kalimat muncul dari lisannya

“Iya bu, saya udah kebiasaan.” ujarnya.

Sungguh? Kebiasaan? Apakah itu kebisaan yang harus dipertahankan?

Restorasi Meiji di awal tahun 1900-an membuat Jepang mampu menyatukan kemajuan teknologi dan industri yang diambil dari Barat dengan nilai-nilai timur tradisional Jepang. 

I have dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern. Now we have railroads and cannon, Western clothing, but we cannot forget who we are or where we come from.

Pidato Kaisar Meiji, dari Film the Last Samurai.

Jepang hari ini kita kenal sebagai negara yang maju, teknologi yang mutakhir. Namun, tetap dengan masyarakatnya yang santun. Memiliki budaya malu, dan bertanggungjawab. Akhir-akhir ini saya sering memperhatikan “kelakuan” masyarakat Jepang yang selalu membuat terkagum-kagum. Mulai dari bersih-bersih di Piala Dunia, memungut puntung rokok di Asian Games, bersih-bersih di Mina, hingga pemulangan atlet Asian Games.

Sumpah Pemuda is not only responding to change, but also adding value.

Sebagian pemuda memiliki kecenderungan latah terhadap trend dan gaya yang tengah viral. Hal ini mengingatkan saya terhadap salah satu lema dalam Manifesto for Software Craftmanship yang saya jadikan sub judul diatas. Kemudian latah yang terjadi kebanyakan tidak memberi manfaat lebih baik ketimbang hanya trend itu sendiri.

Pada umumnya trend hanya terjadi dalam batasan waktu tertentu. Pola pikir “yang penting nge-trend” akan sulit untuk mendorong perubahan yang lebih baik. Alih-alih memberikan manfaat, ia hanya akan beriringan hilang menemani trend itu sendiri.

Di dalam dunia aviasi, on-time performance sedang menjadi trend yang diperlombakan antar maskapai di dunia. Namun dibalik itu semua, SOP harus diselesaikan dengan baik dan benar, untuk keselamatan penumpang. Meskipun, seringkali berbuah pada tidak tepatnya waktu penerbangan, dan akhirnya waktu penumpang yang dikorbankan. Apapun trend yang sedang dan pernah terjadi di dunia aviasi baik itu on-time, low-cost, full-service, luxury flight, bahkan dulu supersonic flight, selalu ada nilai yang dipegang dan terus ditingkatkan kualitasnya yaitu keselamatan penumpang.

Mengikuti trend bukanlah sebuah kesalahan, namun harus tetap ada nilai yang dipegang dan diperbaiki. Saya ambil contoh, Channel Youtube Wendover Productions, SmarterEveryDay, atau yang dalam negeri ada Kok Bisa?, Remotivi. Mereka tidak hanya mampu mengumpulkan jumlah subscribe yang berjuta-juta, namun konten yang diberikan memiliki nilai serta manfaat yang lebih untuk penontonnya.

Jadi, sumpah pemuda versimu seperti apa?

Gani Prayoga

Gani Prayoga