Untuk tampilan membaca yang lebih baik, Buka di web browser

KLIK DISINI
___

Bagaimana rasanya ketika kita menginginkan sesuatu hal, tapi orang lain yang mendapatkannya? Ataukah pernah merasakan bahwa orang lain itu keren karena sesuatu kemampuannya yang kita tidak miliki?

  • Melihat Teman A yang mampu ikut lomba maraton penuh.
  • Teman B yang baru saja berhasil dengan tes CPNSnya.
  • Teman C yang sukses mendirikan startup.
  • Teman D yang sudah dikaruniai momongan.
  • Teman D yang baru saja melangsungkan pernikahannya pekan lalu.
  • Teman E yang mampu membaca 2 buku dalam sepekan.
  • Teman F yang karyanya sudah dipublikasikan di jurnal internasional.
  • Teman G yang dianugerahi kenaikan pangkat militernya.
  • Teman H yang menjadi jurnalis makanan yang bisa mencicipi masakan di seluruh dunia.
  • Teman I yang berhasil dengan body buildingnya.

Menyambung terus hingga teman-teman yang lainnya.

Semua terasa indah bagi kita. Kerap kali kita pun ingin memperolehnya. Tidak jarang juga kita mencoba apa yang kita lihat dari teman-teman kita. Pergi ke Gym, berlatih 5 jam, melihat cermin, tidak berubah apa-apa. Berturut-turut 3 hari, berlatih 5 jam, melihat cermin, tidak berubah apa-apa. Lalu karena merasa tidak menghasilkan apa-apa, kita berhenti.

Padahal bukan begitu caranya. Sedikit, tapi rutin. Seperti mengayuh sepeda, kayuhan-kayuhan kecil yang membuat kita tiba di tujuan.

Membentuk tubuh bukan dengan cara memaksakan diri 5 jam. Namun 20 menit tiap hari yang membuat tubuh kita terbentuk.

Mempunyai gigi yang sehat bukan dengan cara ke dokter gigi setahun 2 kali dengan biaya mahal. Namun dengan 2 menit menyikat gigi 2 kali setiap hari.

Permukaan yang kita lihat hanya yang indah saja. Padahal di balik itu semua ada perjuangan yang mereka rahasiakan. Disimpannya untuk cerita ke anak cucu nanti. Tidak instan. Hasil yang didapat adalah akumulasi dari sedikit demi sedikit perjuangan yang tidak pernah kita tahu.

Kita tidak tahu berapa lama dan bagaimana kerasnya usaha untuk mendapatkan yang kita lihat.

Lalu kita lihat dalam diri kita sendiri. Apa yang kita miliki, yang kita kuasai, yang mungkin orang akan berpikir sama seperti yang kita pikirkan.

Kamu mungkin tidak pandai menulis, tapi lukisanmu membuat orang mengerti perasaanmu.

Kamu mungkin gugup jika berbicara di depan orang banyak, tapi tulisanmu sangat menyentuh.

Kamu mungkin belum punya kendaraan, tapi tubuhmu lebih sehat karena jalan kakimu.

Kamu mungkin belum mendapatkan pekerjaan, tapi kamu bisa menggapai pendidikan tinggimu.

Kamu mungkin tidak bisa kuliah, tapi waktumu kamu habiskan untuk berbakti membantu orang tuamu.

Kamu mungkin sulit mengerti teknologi, tapi tulisan kaligrafimu terlihat sangat indah.

Kita punya episode hidup masing-masing. Mungkin banyak yang meragukan kita, tapi lebih banyak lagi yang merasa bersyukur terbantu dengan usaha kita.

Pada akhirnya, semua adalah titipan Allah. Mudah bagi-Nya untuk mengutak-atik semuanya. Maka apa yang kita jalani dan usahakan, semua untuk Allah.

Karena itulah episode dalam dunia ini yang harus kita jalani.

Gani Prayoga

Gani Prayoga