Shalat adalah sistem spiritual yang Allah tetapkan sebagai pembuktian seorang hamba yang menyatakan dirinya beriman. Sebagai sebuah "sistem" pembuktian, shalat dirancang memiliki ketetapan yang tidak bisa dilakukan sembarangan. Tata caranya, jumlah rakaatnya, niatnya, hingga waktunya. Ustad Adi Hidayat dalam video youtubenya pernah membahas mengenai ketetapan waktu shalat dalam Al-Quran, dan tulisan ini merupakan pengembangan dari catatan pribadi saya saat menyimak video tersebut.
Waktu yang Jelas Ketetapannya
Al-Quran menegaskan bahwa shalat tidak bisa dilakukan sembarangan, terdapat waktu-waktu yang ditetapkan untuk diikuti.
فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَـٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا⸻
Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.
― Q.S. An-Nisa [4] ayat 103
Tafsir klasik dari Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini menegaskan shalat adalah kewajiban yang sudah ditentukan, tidak boleh ditinggalkan atau dilakukan di luar waktunya. Sementara Al-Tabari mengungkapkan bahwa penekanan pada kata kitaban mawqūta menunjukkan bahwa Allah menetapkan waktu shalat sebagai bagian dari aturan yang mengikat.
Dari ayat ini kita mendapatkan fondasi dari shalat lima waktu adalah sistem ibadah yang terikat dengan waktu. Menjaga ketepatan waktu adalah bagian dari ketaatan dan bukti dari iman.
Ditetapkan dalam Setiap Pergantian Waktu
أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًۭا ٧٨⸻
Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
― Q.S. Al-Isra' [17] ayat 78
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ... ١١٤⸻
Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. ...
— Q.S. Hud [11] ayat 114
Ibn Kathir: ayat ini merujuk pada Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya. Subuh disebut secara eksplisit sebagai “qur’an al-fajr”.
Jalalayn: “dua tepi siang” ditafsirkan sebagai Subuh dan Maghrib, sementara “zulafan minal lail” adalah Isya.
Pergantian waktu adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Shalat menjadi pengikat manusia dengan siklus alam yang Allah tentukan. Dengan demikian shalat menjadi momentum untuk seorang hamba merefleksikan aktivitas yang dilakukan setiap transisi waktu.
Spesifik Waktu dalam Sehari
فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ ١٧وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّۭا وَحِينَ تُظْهِرُونَ ١٨⸻
(17) Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada pada petang hari dan waktu kamu berada pada waktu subuh,
(18) dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan pada waktu kamu berada pada petang hari dan pada waktu kamu berada pada waktu Zuhur .
— QS Ar-Rum [30] ayat 17–18
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَـٰثَ مَرَّٰتٍۢ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ... ٥٨⸻
(58) Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu pada tengah hari, dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu, ...
— QS An-Nur [24] ayat 58
Dalam tafsir klasik, Al-Tabari menekankan bahwa ayat ini menunjukkan adanya tiga fase utama dalam kehidupan manusia yang menjadi waktu pokok ibadah: pagi, siang, dan malam sebagai momentum spiritual yang mengikat manusia dengan Tuhannya. Ibn Katsir menambahkan dimensi sosial dalam penafsirannya terhadap QS An-Nur. Menurut beliau, penyebutan khusus waktu Subuh dan Isya merupakan waktu privat, di mana manusia berada dalam kondisi paling intim seperti baru bangun dari tidur atau bersiap untuk beristirahat. Oleh sebab itu, ayat ini menekankan pentingnya menjaga adab dan privasi pada waktu-waktu tersebut.
Ustadz Adi Hidayat dalam kajiannya mengaitkan tafsir klasik dengan penegasan bahwa lima waktu shalat disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Beliau merujuk pada penjelasan Ibn Abbas yang menegaskan bahwa ayat-ayat ini menjadi bukti nyata bahwa Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya memang termaktub dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an sendiri telah memberikan landasan tekstual yang kuat bagi kewajiban shalat lima waktu, sekaligus memperlihatkan kesinambungan antara tafsir klasik dan pemahaman ulama kontemporer.
Keseluruhan ayat-ayat ini memperkuat makna bahwa shalat adalah ibadah yang mengikat seluruh fase kehidupan harian manusia. Dari pagi hingga malam, setiap fase kehidupan diwarnai dengan panggilan untuk mengingat Allah.
Diminta untuk Dijaga dan Ditunaikan dengan Khusyuk
Salah satu dalil utama tentang kewajiban menjaga shalat tercantum dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 238, baik dari sisi waktu dan kualitasnya.
حَـٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ ٢٣٨⸻
(58) Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) salat wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.
— QS Al-Baqarah [2] ayat 238
Dalam tafsir Ibn Kathir, shalat wustha ditafsirkan sebagai shalat Asar. Hal ini karena shalat Asar sering kali dilalaikan oleh manusia, terutama di tengah kesibukan aktivitas sore hari. Sementara itu, tafsir Jalalayn menyebutkan bahwa sebagian ulama menafsirkannya sebagai shalat Subuh, karena keutamaannya yang besar. Keberagaman penafsiran ini menunjukkan keluasan makna shalat wustha dan betapa pentingnya menjaga seluruh waktu shalat.
Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa inti dari shalat tidak hanya ada pada ketepatan waktu, lebih dari itu ia terdapat pada kualitas khusyuk. Menurut beliau, menjaga waktu shalat tanpa menghadirkan kekhusyukan berarti kehilangan ruh ibadah itu sendiri. Shalat adalah penghubung langsung antara hamba dan Allah, sehingga aspek batiniah sama pentingnya dengan aspek lahiriah.
Shalat adalah ibadah yang harus dijaga secara menyeluruh: waktunya, kualitas pelaksanaannya, dan kehadiran hati di dalamnya. Shalat merupakan fondasi spiritual yang menjaga hubungan manusia dengan Allah. Dengan menjaga shalat secara utuh, seorang Muslim akan senantiasa berada dalam lingkaran kesadaran ilahi sepanjang hidupnya.
Detail Waktu Shalat Berdasarkan Ayat, Tafsir, dan Penjelasan Ustadz Adi Hidayat
Subuh
Dalil tentang shalat Subuh terdapat dalam QS An-Nur ayat 58 dan QS Ar-Rum ayat 17.
فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ ١٧⸻
(17) Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada pada petang hari dan waktu kamu berada pada waktu subuh,
— QS Ar-Rum [30] ayat 17
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَـٰثَ مَرَّٰتٍۢ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ... ٥٨⸻
(58) Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu pada tengah hari, dan sesudah shalat Isya. ...
— QS An-Nur [24] ayat 58
Dalam tafsir klasik, Subuh disebut sebagai waktu yang disaksikan oleh para malaikat, sehingga penuh dengan keberkahan. Momentum ini menjadi awal hari yang sarat nilai spiritual. Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa Subuh adalah awal kehidupan spiritual seorang Muslim, sebuah momen pertama untuk mengingat Allah sebelum memulai aktivitas duniawi. Dengan demikian, Subuh menjadi fondasi kesadaran ilahi yang mengiringi seluruh aktivitas harian.
Zuhur
Dalil tentang shalat Zuhur terdapat dalam QS Al-Isra ayat 78 dan QS Ar-Rum ayat 18.
أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًۭا ٧٨⸻
Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
― Q.S. Al-Isra' [17] ayat 78
فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ ١٧⸻
(17) Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada pada petang hari dan waktu kamu berada pada waktu subuh,
— QS Ar-Rum [30] ayat 17
Tafsir klasik menjelaskan bahwa Zuhur dimulai ketika matahari tergelincir dari puncaknya, menandai awal waktu siang menuju sore. Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa Zuhur adalah jeda dari kesibukan dunia, sebuah kesempatan untuk mengembalikan fokus kepada Allah di tengah aktivitas. Dengan shalat Zuhur, seorang Muslim diajak untuk menyeimbangkan antara tuntutan dunia dan kebutuhan spiritual.
Ashar
Dalil tentang shalat Ashar terdapat dalam QS Qaf ayat 39 dan QS Ar-Rum ayat 18.
... يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ ٣٩⸻
(39) ..., dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.
— QS Qaf [50] ayat 39
وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّۭا وَحِينَ تُظْهِرُونَ ١٨⸻
(18) dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan pada waktu kamu berada pada petang hari dan pada waktu kamu berada pada waktu Zuhur .
— QS Ar-Rum [30] ayat 18
Tafsir klasik menekankan bahwa Ashar sering dilalaikan manusia karena bertepatan dengan waktu sibuk menjelang sore, sehingga keutamaannya ditekankan secara khusus. Ustadz Adi Hidayat menafsirkan Ashar sebagai waktu refleksi, mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam urusan dunia menjelang malam. Shalat Ashar menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas, dan manusia harus kembali mengingat Allah sebelum hari berakhir.
Maghrib
Dalil tentang shalat Maghrib terdapat dalam QS Hud ayat 114 dan QS Ar-Rum ayat 17.
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ... ١١٤⸻
(114) Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, ...
— QS Hud [11] ayat 114
فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ ١٧⸻
(17) Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada pada petang hari dan waktu kamu berada pada waktu subuh,
— QS Ar-Rum [30] ayat 17
Tafsir klasik menyebut Maghrib sebagai awal malam yang penuh keberkahan, sebuah transisi dari siang menuju malam. Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa Maghrib adalah waktu transisi singkat yang mengingatkan manusia akan keterbatasan waktu di dunia. Dengan shalat Maghrib, seorang Muslim diajak untuk menyadari bahwa setiap pergantian waktu adalah tanda kebesaran Allah dan pengingat akan kefanaan hidup.
Isya
Dalil tentang shalat Isya terdapat dalam QS An-Nur ayat 58.
... ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ... ٥٨⸻
(58) ..., yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu pada tengah hari, dan sesudah shalat Isya. ...
— QS An-Nur [24] ayat 58
Tafsir klasik menjelaskan bahwa Isya adalah penutup hari, sekaligus waktu yang menjaga privasi manusia ketika bersiap untuk beristirahat. Ustadz Adi Hidayat menambahkan bahwa Isya adalah bentuk penyerahan diri terakhir sebelum tidur, menutup hari dengan doa dan pengingat kepada Allah. Shalat Isya menjadi simbol penutup spiritual harian, memastikan bahwa seorang Muslim mengakhiri aktivitasnya dalam keadaan mengingat Tuhannya.
Penutup
Shalat lima waktu adalah ritme kehidupan yang Allah tetapkan dalam Al-Quran. Dari Subuh hingga Isya, setiap waktu shalat adalah momen refleksi, pengingat, dan penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Ceramah Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa shalat adalah bukti iman, pengikat waktu, dan penghubung langsung dengan Allah. Sunnah Nabi ﷺ melengkapi rincian teknisnya, sehingga sistem ibadah ini menjadi utuh dan terintegrasi.