Sabtu pagi itu, kabar tentang wafatnya Razan al-Najjar datang seperti hantaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Berita duka yang menggetarkan dan menyesakkan dada. Razan ―relawan medis Palestina yang ditembak saat bertugas di Great March of Return― menjadi nama ke-119 yang gugur dalam aksi tersebut. Namun, menyebutnya "korban" rasanya tidak adil! Seorang muslimah muda yang memilih berdiri di garis depan demi menyelamatkan nyawa orang lain layak menyandang gelar Mujahidah.
Sesak

Awalnya, kabar ini saya terima dengan pikiran yang sangat runyam. Logika dan batin yang sibuk menganalisis bahwa ini adalah pelanggaran perang. Penyerangan terhadap petugas medis adalah titik terlemah kemanusiaan. "Kenapa tenaga medis diserang? Mengapa begini? Mengapa begitu?" tanyaku rumit. Menyusul rasa hati mulai menggema lebih keras. Ada marah yang menebal, sedih yang mengambang, bercampur kegetiran yang sulit ditepis. Emosi yang berubah menjadi gelombang yang tak bisa ditahan.
Di setiap berita tentang Palestina yang melintas, hampir selalu bergumam lirih, "Yaa Allah, kenapa?" Ada ketidaksabaran yang sering muncul. Keinginan untuk "menagih" janji kemenangan, memohon agar keadilan segera turun tanpa tertunda satu detik pun.
Berseberangan dengan rasa itu, ada suara hati yang menegur pelan. Setiap perjuangan berjalan dengan proses. Bahwa Allah memilih dengan sangat hati-hati siapa yang diberi kehormatan untuk wafat sebagai syahid. Dan mungkin, dalam rasa sedih ini, saya hanya diminta untuk terus mendoakan dan mendukung tanpa putus harapan.
Mulia
Kini, ketika menyelami perjalanan hidup Razan, ada senyum getir sekaligus haru. Betapa mulia cara ia pergi. Hari jumat di bulan Ramadan. Sebuah waktu yang diagungkan umat Muslim. Ia wafat saat menjalankan tugas kemanusiaan, menolong mereka yang terluka. Banyak muslim yang mendambakan kematian sebaik itu, dan hanya sedikit yang Allah pilih. Mungkin itulah mengapa kabarnya sangat menampar. Karena ketika menatap hidupku sendiri, masih banyak dipenuhi kekurangan, amalan berantakan, hisab menegangkan, dan surga yang belum jelas.
Razan mengingatkan saya pada satu hal: bahwa kemanusiaan dan kasih sayang bukan sekadar slogan. Ia menjalaninya, dengan keberanian yang melampaui usia. Ia berdiri di medan yang retak oleh konflik, bukan untuk kekuasaan, bukan untuk uang, bukan untuk sorotan kamera—melainkan karena cinta kepada bangsanya dan keyakinan kepada Tuhannya.
Kami melakukan ini atas dasar cinta pada negeri kami. Ini adalah proyek amal kemanusiaan. Kami melakukan ini bukan untuk uang, kami melakukan ini untuk Allah.
―Razan al-Najjar
Salam

Untuk #Razan dan untuk semua pejuang kemanusiaan di seluruh dunia, salam hormat yang dalam. Kami yang jauh dari medan perjuangan hanya bisa mengirimkan doa. Semoga kalian yang pergi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga kami yang hidup, diberi kekuatan untuk terus peduli, terus mendoakan, dan terus percaya bahwa keadilan akan selalu menemukan jalannya.
Karena cinta, pada akhirnya, memang tidak pernah hadir tanpa alasan.